Tidak semua hal bisa aku katakan, dan Tidak semua hal perlu aku katakan............................................ Terima kasih atas Kunjungannya

Senin, 04 Maret 2013

Lomba Desa dan Kelurahan


 
Jadwal Lomba Desa dan Kelurahan Dimajukan

ilustrasi

Selong, DA -  Sesuai dengan surat Bupati Lombok Timur Nomor 414.1/85/PMPD/2013 tertanggal 28 Januari 2013 tentang penyelenggaraan lomba Desa dan Kelurahan/ Anugrah Bintang Seleparang tahun 2013, dibeberapa kecamatan sudah dimulai tahapan sosialisasi dan persiapan, bahwa penilaian lomba desa dan kelurahan dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat nasional. Kepala Bidang (Kabid) KMSD BPMPD Suci Murni di ruang kerjanya rabu (27/2), kepada Dewi Anjani  mengatakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya bahwa untuk pelaksanaan penilaian Lomba Desa dan Kelurahan, posyandu dan pelaksanaan terbaik Program Peningkatan Perananan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) akan dilaksanakan pengintegrasian  dengan mengacu pada indikator penilaian yang telah ditetapkan,”untuk tahun ini indikator penilaian yang telah ditetapkan akan diintegrasikan dengan posyandu dan P2WKSS, ini poin yang berbeda dari tahun sebelumnya”paparnya. Ditanya soal akan diselenggarakannya pesta demokrasi yakni pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur pada bulan Mei mendatang, Sucir Murni mengatakan tidak akan berbenturan jadwal kegiatan penilaian di tingkat kabupaten dengan pemilihan bupati dan wakil bupati, “memang sedianya ditingkat kabupaten akan dilaksanakan pada bulan mei namun karena adanya pemilukada maka kegiatan ditingkat kabupaten akan dimajukan yakni pada bulan Maret-April 2013 ini” terangnya. Sambung Suci Murni, kegiatan lomba Desa dan Kelurahan khusus di Lombok Timur yang dipadukan dengan Anugrah Bintang Seleparang tahun 2013, perempuan ramah itu menjelaskan bahwa pihak kecamatan sudah disurati terkait dengan proses sosialisasi dan persiapan ditingkat kecamatan hingga ketingkat Desa dan Kelurahan sehingga diharapkan pelaksanaan kegiatan lomba tepat waktu sesuai dengan jadwal. (adhi)

Menengok Sisi Lain Aktifitas Masyarakat Di Tengah Hiruk Pikuk Pilkada.


Pemilukada dianggap tidak penting. Menjadi Pedagang Gule Gending hingga Ke Luar Daerah.

Menengok Sisi Lain Aktifitas Masyarakat Di Tengah Hiruk Pikuk Pilkada.
Oleh : Muliadhi, Lombok Timur


Amaq Sukri (Pedagang Gule Gending)

Pemilihan kepala daerah kabupaten Lombok Timur tinggal menghitung hari, berbagai aktifitas calon maupun tim sukses terus berlangsung. Seharusnya momen seperti ini masyarakat arus bawah akan kebanjiran rezki, karena para sang calon raja turun ke masyarakat membawa uang segepok dengan berkampanye “Pilihlah Aku”. Namun tidak demikian yang dirasakan Amaq Sukri seorang pedagang Gule Gending. Hidupnya tidak berubah, ia tidak menghiraukan hiruk pikuk pilkada dan bagi-bagi duit, karena baginya hanya orang tertentu yang mendapatkan duit tersebut.
Penulis cukup lama memperhatikan laki-laki bertopi ala Coboy itu di depan salah satu sekolah dasar, tak bergerak sedikitpun , rupanya pedagang kembang gula itu tanpa sadarkan diri terlelap memeluk lututnya menanti jam istirahat murid sekolah dasar tersebut keluar bermain. Mungkin mendengar langkah menghampirinya barulah dia terkejut dan terjaga, dengan senyum ramahnya laki-laki yang sudah berambut dua itu mengusap-usap matanya sambil membetulkan posisi duduknya. Amak Sukri (60 tahun) mengaku menggeluti profesi yang di sebutnya sebagai pedagang Gule Gending itu sejak muda sudah akrab dengan profesi ini, laki-laki tua yang berasal dari Desa kembang Kerang Kecamatan Aikmel ini menceritakan sekelumit perjalanannya menjadi pedagang Gule Gending, dia menceritakan bahwa tidak hanya berjualan keliling di Pulau Lombok saja akan tetapi hingga keluar daerah seperti sumbawa, bima, dompu bahkan hingga pernah menginjakkan kakinya berkeliling di tanah Kupang NTT, “ bukan hanya di pulau lombok saja tetapi di luar daerah juga saya pernah mengadu nasib dengan bejulan Gule Gending ini, tapi karna saya sudah tua makanya sekarang saya hanya di wilayah  terdekat saja seputar Lombok Timur (dengan bahasa sasak)” tuturnya. Siswa-siswi Taman kanak-kanak dan tingkat Sekolah Dasar menjadi sasaran utamanya, dengan berjalan kaki dari sekolah ke sekolah lainnya Amak Sukri dapat mengantongi hasil anatara Rp.50.000,- hingga Rp.60.000,- per harinya,  sisa dari ongkos dan makan hanya tersisa Rp. 25.000 hingga Rp30.000, kendati penghasilan yang hanya sekedar menyambung hidup dengan istri dan keempat anaknya itu, Amak Sukri masih tetap menyukai pekerjaannya ini. Pekerjaan yang dianggap hanya dapat memenuhi kebutuhan makan sehari-hari ini merupakan pekerjaan yang dinilai halal dan berkah untuk keluarganya. “ saya menikmati pekerjaan ini, disamping saya dapat uang juga menyehatkan, karena saya terus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya, dari rumah setelah sholat subuh saya naik mobil angkutan sampai ke tempat tujuan dan jalan kaki berkeliling dari sekolah ke sekolah dan dari kampung ke kampung lainnya, saya memang punya sebidang sawah namun istri saya yang urus masalah itu, karna menjadi petani apa lagi sawah hanya seadanya tentu sangat tidak mencukupi kebutuhan keluarga, akhirnya kita bagi tugas saja sama istri” tuturnya panjang. Mengambil keputusan ke luar daerah hanya untuk berjualan kembang gula merupakan keputusan yang bukan asal-asalan atau sekedar cari pengalaman semata, akan tetapi menurut  Amak Sukri bahwa daerah Lombok khusunya Lombok timur juga belum mampu menjadi tempat yang mampu mensejahterakan penghuninya sekelas Amak Sukri, “ saya berjualan hingga ke luar daerah ketika saya rasa pendapatan mulai menurun, kan lombok ini khusunya lombok timur juga belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan buat orang-orang seperti saya dan itu juga sebabnya banyak yang ke malaysia” jelasnya.  Sambung Amak Sukri, kalau memang daerah ini (Lotim) banyak peluang pekerjaan tentu akan sulit mengambil keputusan mengadu nasib ke daerah lain atau ke luar negeri seperti banyaknya masyarakat lombok timur yang meninggalkan keluarganya ke negara Malaysia “kondisi seperti ini juga yang memaksa kita hingga pergi mencari nafkah ke negeri orang, ya kan....” jelasnya setengah bertanya. Ditanya soal hiruk pikuknya pesta demokrasi yang akan terlaksananya Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati, Gubernur dan Wakil Gubernur 13 Mei mendatang, si petualang dari kecamatan Aikmel itu mengaku tidak pernah mau tahu “ yang nyalon-nyalon jadi pemerintah itu saya tidak kenal, lagian juga mereka tidak mengenal saya, kalau tiba waktunya memilih saya akan milih, itupun kalau ada kesempatan, bagi saya tidak terlalu penting karena kalau saya tidak kerja keras juga tidak makan, saya tidak terlalu peduli soal itu” tegasnya singkat dengan logat bahasa sasak yang kental.
Menurut Amaq Sukri, pemimpin kita kalau ada maunya baru dia turun, pura-pura simpati pada rakyat kecil, tapi kalau sudah jadi, mereka seolah tidak kenal dengan rakyatnya sendiri yang membuatnya jadi raja, buktinya kita masyarakat kecil belum mendapat perhatian seperti yang rakyat harapkan, dan juga pemimpin kita sering lupa ingatan kalau masalah rakyat.

Kondisi SMP SATAP 1 Terara Memperihatinkan


Kondisi SMP SATAP 1 Terara Memperihatinkan


SMP SATAP 1 Terara Kecamatan Terara

 Terara; DA, Kondisi SMP Satap (satu atap) 1 Terara sangat memperihatinkan, genting bangunann tua itu  sudah mulai berjatuhan, bebarapa plafon dan kusennya sudah mulai melapuk termakan usia, bangunan sekolah yang dindingnya dari pagar bedek itu terbangun sejak tahun 1978, menurut salah satu siswa yang tidak mau menyebutkan namanya, bahwa sekolah tempatnya menimba ilmu tersebut  sudah tidak mampu  memberikannya rasa nyaman serta membosankan. “kita sudah merasa nggak nyaman lagi belajar dengan kondisi kelas seperti ini, kita sudah bosan dibangunan ini, kita ingin segera dipindahkanterangnya. Di tempat terpisah, H. Jasman Kepala Sekolah SMP Satap Terara yang ditemui di ruang kerjanya, kepada Dewi Anjani mengatakan bahwa sekolah tersebut tidak akan di rehab (renovasi) karna lokasi sekolah itu masuk dalam kawasan rendaman Dam Pandan Dure “sekolah ini tidak akan di rehab karna masuk kawasan rendaman Dam tengah mulai di bangun, akan tetapi kami akan di pindahkan”paparnya. Lebih lanjut  laki-laki paruh baya itu mengatakan bahwa sekolah yang dipimpinnya itu pernah mendapatkan bantuan renovasi sebesar Rp. 400.000.000 (empat ratus juta rupiah) namun karena lokasi sekolah itu masuk kawasan rendaman Dam Pandan Dure akhirnya dana tersebut dialihkan ke tempat lain, pihak sekolah dalam hal ini guru-guru dan para wali murid juga maklum dengan kondisi sekolah.  Adapun lokasi kemana sekolah tersebut akan di pindahkan pihak sekolah belum mendapat kejelasan “kami guru-guru dan wali murid maklum sehingga kami aman-aman saja dan proses belajar mengajarpun berjalan seperti biasa, tidak ada kendala, terkait dengan pemindahan kami belum mendapat kejelasan dari pemerintah” jelasnya. Dengan kondisi bangunan sekolah yang sudah sangat memperihatinkan pihak sekolah dan siswapun sangat berharap supaya pemindahan dan pembangunan sekolah yang baru segera terlaksana, karena bagaimanapun kondisi saat ini tentu tidak akan selamanya menjamin proses belajar mengajar dengan optimal. “semoga pemerintah segera memindahkan atau membangun gedung yang baru utnuk kami” harap H.Jasman.(Adhi).