Kamis, 12 September 2019
Penulis: Agus Puji Prasetyono
Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta dan
Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas
Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas
Tidak
terpungkiri lagi bahwa posisi strategis Indonesia yang berada di jantung
perlintasan perdagangan dunia, di antara dua samudra dan dua benua, serta
menyimpan sejumlah besar mineral, minyak dan gas di dalam perut buminya,
terlebih penuh dengan kesuburan di hamparan hutannya, adalah negara yang sangat
kaya. Dengan kekayaannya itu Indonesia kini menjadi sasaran utama negara tujuan
investasi yang potensial bagi negara lain. Bagi Indonesia investasi asing
hanyalah suplemen dari anggaran pembangunan yang sudah terencana dalam APBN dan
RPJMN, sehingga jumlah dan peruntukannya pun telah terkontrol dengan baik.
Dengan dua jenis skema anggaran dan pembangunan itu Indonesia bergerak
membenahi diri menghadapi persaingan global.
Kondisi
saat ini
Salah
satu bukti dari keseriusan Indonesia adalah realisasi pembangunan Infrastruktur
yang secara nyata telah berhasil di beberapa wilayah. Pembangunan itu bertujuan
agar konektivitas antar kabupaten/kota, provinsi dan nasional menjadi mudah dan
praktis sehingga akan menaikkan dinamika sosial dan ekonomi, yang berdampak
pada naiknya jam kerja dan pendapatan masyarakat. Alasan pembangunan
infrastruktur ini sangat masuk akal, seperti apa yang kita lihat saat ini,
meskipun Indonesia telah 72 tahun merdeka, faktanya infrastruktur di banyak
daerah terutama daerah terpencil seperti di sebagian Kalimantan, Maluku, Papua,
Sumatera dan Sulawesi masih sangat mengenaskan. Karena keterpencilannya itu
mereka tidak dapat bergerak secepat masyarakat kota, akibatnnya mereka
tertinggal dalam beberapa bidang pembangunan baik pendidikan, sosial maupun
ekonomi. Mereka hidup dalam kemiskinan subsisten, belum tersentuh ilmu
pengetahuan dan teknologi secara memadai, dan bahkan gerak langkah kehidupannya
sangat terbatas.
Faktor
utama membangun negara yang ber Daya Saing tinggi antara lain adalah sumberdaya
manusia (SDM) dan Iptek. Berdasakan wilayah, SDM terdiri dari dua kelompok
yaitu SDM yang tinggal di perkotaan dan desa. Masyarakat kota secara umum
dinilai maju dalam berbagai hal, mereka terfasilitasi infrastruktur yang
memadai, akses pendidikan yang lebih mudah, sedangkan masyarakat Desa umumnya
memiliki ciri-ciri sebaliknya. Disparitas kaya-miskin masih belum berhasil
diturunkan secara signifikan. Disparitas ini tecermin dari kehidupan kota yang maju
dan kehidupan desa yang serba terbatas. Sementara itu, desa penuh dengan
kekayaan alam melimpah, mineral, tambang, minyak dan gas sertahamparn hutan
yang luas, cukup menjamin kehidupan Desa. Namun lagi-lagi yang memanfaatkan
kekayaan alam desa umumnya didominasi masyarakat kota. Inilah yang menyebabkan
disparitas itu masih lebar hingga saat ini. Dari data menyebutkan bahwa
kesenjangan dalam Gini Ratio masih berada di sekitar 0,4, dan ini terjadi sejak
tahun 2007. Setidaknya harapan baru bagi masyarakat desa telah muncul ketika
pemerintah meggenjot pembangunan infrastruktur, jika ini berhasil, setidaknya
masyarakat Desa memiliki fasilitas untuk mengejar ketertinggalanya dengan
masyarakat kota. Masyarakat desa akan bisa menggunakan waktu lebih panjang untuk
belajar, bekerja dan berkreasi lebih baik.
Dalam
penguasaan Teknologipun, masyarakat kota dengan pengetahuannya memiliki
kapasitas untuk menguasai teknologi lebih baik, sementara masyarakat desa hanya
bisa menguasai Teknologi sederhana, itupun baru bisa tersinergi jika
infrastruktur desa dapat diwujudkan segera.
Sementara
itu, sebagian besar penduduk di desa tertinggal hidup dalam infrastruktur yang
memprihatinkan, mereka harus menempuh jarak sejauh 6-10 km ke pusat pemasaran
(terutama pusat kecamatan), bahkan di desa lainnya penduduk harus menempuh
jarak lebih dari 10 km dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. Penduduk yang
terlayani air minum perpipaan perdesaan masih sangat rendah, selebihnya masih
mengambil langsung dari sumber air yang belum terlindungi. Sementara itu,
banyak petani di desa tertinggal memiliki luas lahan pertanian kurang dari 0,5
ha (lahan marjinal). Dengan kondisi tersebut maka dibutuhkan strategi
penanganan penyediaan infrastruktur perdesaan yang dapat mendukung terjaminnya
peningkatan dan keberlanjutan kegiatan perekonomian di perdesaan
Sehebat
apapun reputasi kota, tanpa adanya desa, kota tidak akan pernah bisa maju
seperti sekarang. Membangun desa adalah membangun masyarakat miskin, akan
terwujud jika desa memiliki Sumberdaya Manusia terampil dan Iptek yang tepat.
Thomas
Alfa Edison pernah mengatakan “Tidak ada jalan keluar yang dipakai untuk
menghindarkan diri dari sesuatu, kecuali berfikir”.
Hal
itu menegaskan bahwa dalam setiap masalah harus dapat dipecahkan dengan
menggunakan strategi yang tepat, sedapat mungkin dengan cara yang sederhana,
dapat dijangkau dengan mudah, dapat dipertanggung jawabkan, dan memiliki
dimensi waktu yang jelas.
Solusi
strategis
Karena
itu membangun desa harus dimulai dari mempersempit disparitas kota-desa secara
terukur dan tepat agar dapat menjamin kepastian keberhasilan, antara lain :
Mempercepat
pembangunan infrastruktur Desa memerlukan strategi yang tepat, Jumlah penduduk
miskin berpengetahuan rendah yang dominan di perdesaan perlu strategi dalam
melibatkan masyarakat perdesaan dalam pembangunan infrastruktur perdesaan
sehingga bisa memberikan beberapa dampak, antara lain :
- 1.
Kualitas pekerjaan
yang dihasilkan,
- 2.
Keberlangsungan
operasional dan pemeliharaan infrastruktur tersebut,
- 3.
Kemampuan masyarakat
dalam membangun suatu kemitraan dengan berbagai pihak, serta
4.
Penguatan kapasitas
masyarakat untuk mampu mandiri memfasilitasi kegiatan masyarakat dalam
wilayahnya.
Jenis
infrastruktur perdesaan yang perlu ditingkatkan, antara lain berupa :
1.
Infrastruktur yang
mendukung aksesibilitas, berupa jalan dan jembatan perdesaan,
2.
Infrastruktur yang
mendukung produksi pangan, berupa irigasi perdesaan, dan
3.
Infrastruktur untuk
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat perdesaan, berupa penyediaan air minum dan
sanitasi perdesaan
Seperti
yang dikatakan Philip H. Comb & Manzoor Ahmed, meningkatkan SDM Desa perlu
strategi khusus, antara lain :
- a. Jenis ketrampilan yang dibina , tempat dan jadwal program pendidikan ini harus secara cermat disesuaikan dengan waktu, kebutuhan dan motivasi,
- b.
Ketrampilan yang
dibina dan dianjurkan penerapannya janganlah tepat dari segi teknik, namun juga
harus bisa diaksanakan secara fisik dan ekonomis dalam keadaan khas di
masyarakat mereka,
- c.
Metode yang
diterapkan harus sesuai dengan khasanah bahasa serta gaya belajar kelompok
peserta,
- d.
Usaha pendidikan
harus dilaksanakan sebagai suatu rangkaian yang kontinyu,
- e.
Tujuan-tujuan
pendidikan harus diperincikan secara tegas dari semula, sehingga langsung dapat
diadakan evaluasi untuk mengadakan penyesuaian dan penyempurnaan.
Maka
yang harus dilakukan adalah meningkatkan kemampuan dan kapasitas SDM Desa
melalui pendidikan yang memadai dengan meningkatkan muatan lokal tanpa harus
meninggalkan tuntutan muatan nasional yang antara lain dapat dilakukan melalui
program pendidikan yang isi dan media penyampaiaanya dikaitkan dengan
lingkungan alam pedesaan, lingkungan social, lingkungan budaya dan kebutuhan
daerah sesuai prioritas muatan lokal yang memungkinkan SDM Desa akan terampil
dan memiliki bekal untuk kehidupan. Pelaksanaanya dapat melibatkan perangkat
yang ada di Desa seperti LKMD, Karang Taruna dan sebagainya, yang bertujuan
pengembangan diri SDM Desa.
Misalnya
di bidang pertanian dan peternakan, mereka dikenalkan berbagai peluang usaha
dari pertanian dan peternakan beserta cara pengelolaannya dengan managemen yang
baik, strategi peningkatan hasil pertanian dan penggunaan pupuk dan bahan kimia
yang tepat. Untuk Pembinaan tukang dan pengrajin, mereka perlu mempelajari
ketrampilan dasar menjadi pengrajin, dikenalkan berbagai bahan dasar, proses
pembuatan sampai pada pemasaran, bahkan penggunaan alat-alat pertukangan modern
dan perawatannya sehingga pembuatan kerajinan lebih cepat dan lebih baik. Dalam
hal pembinaan Industri kecil, SDM Desa perlu dikenalkan berbagai jenis usaha
kecil seperti makanan, souvenir, hiasan rumah, peralatan sehari-hari terutama
yang memeiliki ketersediaan bahan baku di daerah tersebut. Mulai dari cara
pembuatan, mengemas agar menarik dan pemasaran juga perlu di sampaikan
Meningkatkan
kapasitas Iptek Desa tak terlepas dari adanya hubungan IPTEK dan kemiskinan.
Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan memiliki kaitan struktur yang jelas.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam
peranannya untuk memenuhi kebutuhan insani. Ilmu pengetahuan digunakan untuk
mengetahui “apa” sedangkan teknologi mengetahui “bagaimana”. Ilmu pengetahuan
sebagai suatu badan pengetahuan sedangkan teknologi sebagai seni yang
berhubungan dengan proses produksi, berkaitan dalam suatu sistem yang saling berinteraksi.
Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara teknologi mengandung
ilmu pengetahuan di dalamnya. Perubahan teknologi yang cepat dapat
mengakibatkan perubahan struktur dan pola kemiskinan, karena terjadi perubahan
sosial yang fundamental.
Memperkuat
skema pelatihan Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi yang bertujuan untuk
mendukung kewirausahaan berbasis teknologi untuk masyarakat Desa. Perusahaan
pemula yang dikembangkan, memanfaatkan hasil penelitian dan pengembangan dari
lembaga litbang maupun perguruan tinggi. Selain itu juga bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas inkubator-inkubator yang saling terhubung dan bekerja
sama satu sama lain untuk mengembangkan, membangun sinergi dan membantu
industri serta Industri Kecil Menengah terutama dalam menyesuaikan
teknologi-teknologi yang tepat. Jenius bantuan yang disediakan mencakup
on-site dan off-site melalui jasa pelatihan dan pendampingan,
serta mengembangkan materi-materi intermediasi melalui kerjasama dengan
organisasi-organisasi terkait.
Dalam
proses inkubasi ini, umumnya pengusaha pemula diberikan: mentoring,
pendampingan uji produksi, pendampingan uji konsumen, pendampingan uji jual,
sertifikasi, hingga promosi.
Membangun
kerjasama terutama pasar bagi komoditas desa, terutama jika dikaitkan dengan
realitas pasar desa, yaitu bahwa komoditas paling banyak adalah barang-barang
hasil bumi yang siap untuk dikonsumsi. Seperti sayur-sayuran, hasil panen,
alat-alat produksi, makanan siap makan (jenang, gudeg, gorengan, dan makanan
khas daerah setempat). Meski demikian, dalam dua decade terakhir ini banyak
pasar desa yang juga menyediakan komoditas sandang/pakaian. Barang komoditas
seperti perkakas/ peralatan pertanian dan barang-barang modal dalam proses
produksi yang juga disediakan di pasar adalah konsekuensi logis dari mayoritas
profesi masyarakat desa sebagai petani. Karena desa sebagian besar menjual
komoditas hasil pertanian maka Time delivery sangat penting untuk diperhatikan
disamping kualitas barang dan harga. Oleh karenanya menual barang dengan cepat,
kualitas prima dan harga bersaing menjadi parameter utama yang harus
diperhatikan dalam pola kerjasama pasar komoditas desa.
Implikasi
Tidak
menutup kemungkinan jika beberapa hal diatas dilakukan, yaitu antara lain
adalah membangun SDM Desa, membekali masyarakat Desa dengan Iptek, membangun
Pasar Desa serta mendorong tumbuhnya Pengusaha Pemula Desa yang berbasis
teknologi maka ekonomi desa akan tumbuh produktif dan terjadi lompatan
pendapatan yang tinggi. Pada gilirannya Desa akan memiliki kekuatan dan daya
saing yang dapat memberikan dampak pada daya saing nasional. (*)
Hubungan Habibie dan Ainun
makin dekat dan cinta membawa mereka menikah pada 12 Mei 1962 di Bandung.
Bacharuddin Jusuf Habibie
atau yang akrab disapa BJ Habibie dan Hasri Ainun Besari adalah dua siswa yang
termasuk cemerlang di kelasnya masing-masing saat SMA. Kebetulan guru pelajaran
ilmu pasti mereka sama. Melalui candaan Gouw Keh Hong, si guru ilmu pasti, Habibie
dan Ainun “dijodohkan”. “Ini menarik kalau Hasri jadi dengan Habibie. Jika
mereka jadi suami istri, anaknya bisa pintar-pintar,” kelakar Guru Gouw di
kelas seperti diingat Habibie dalam Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di
Mata Orang-orang Terdekat (2012: 1-3) yang disusun A. Makmur Makka. Siapa
sangka candaan sang guru ternyata menjadi kenyataan. Namun ternyata hingga
mereka lulus dan Habibie melanjutkan study ke Jerman keduanya tak pernah
benar-benar dekat. Rudy sapaan akrab Habibie saat muda awalnya memang tak
pernah punya perasaan apapun pada Ainun, namun sang ibu lah yang menginginkan
keduanya menikah. Rudy kala itu masih enggan dan kurang tertarik dengan urusan
percintaan, ia lebih tertarik untuk segera menyelesaikan study doktoral sambil
bekerja di Institut Konstruksi Ringan Aachen.
Cinta Tumbuh di Teras Rumah Ainun
Namun ternyata semua berubah,
saat itu Rudy diantar Fanny, adiknya untuk bertamu ke rumah Ainun di
Ranggamalela. Pertama kali bertemu muka dengan Ainun yang telah beranjak
dewasa, seperti dituturkan Gina S. Noer, Rudy terkejut. Ainun yang dulu pernah
ia perolok dengan julukan “gula jawa”, karena menurutnya jelek, kini
dibilangnya “gula pasir” karena kejelitaannya, dicatat Gina S. Noer dalam Rudy:
Kisah Masa Muda Sang Visioner (2016: 238). Semangat Rudy kian menyala ketika
keduanya bercakap di teras rumah Ainun. Saat makan malam bersama keluarga
Besari, Rudy sempat bercerita tentang upaya mahasiswa Indonesia di Jerman untuk
melakukan perubahan di tanah air. Lalu Ainun bertanya, “Apa yang sudah kalian
kerjakan untuk menciptakan perubahan itu?” Rudy kembali terkejut, baginya
seumur hidup, belum pernah ada perempuan yang bertanya semacam itu kepadanya.
Tak disangka, gadis itu punya perhatian pula pada peran mahasiswa bagi tanah
air.
Ibunda Rudy pernah berpesan
agar saat mencari pendamping harus mampu mengimbanginya. Barangkali memang
Ainun lah pendamping itu. Dari obrolan di teras rumah Ainun itulah rasa saling
suka tumbuh di antara mereka. Rudy merasa Ainun adalah kawan bicara yang mampu mengimbanginya.
Ainun selalu menunjukkan antusiasme dengan intensitas yang sama saat mengobrol
dengan Rudy. “Saya ingin membangun bangsa ini supaya kualitas hidupnya
meningkat, bukan hanya pangan dan rumah, melainkan pendidikan. Rakyat bisa
punya wawasan. Saya mau menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Rudy tentang
cita-citanya kala mengajak Ainun jalan-jalan. “Saya mau menyehatkan rakyat
sebab hanya orang sehat yang bisa bekerja di tempat kamu. Saya sehatkan SDM
biar bisa kamu pakai,” balas Ainun (hlm. 240).
Menikah dan Melanjutkan Hidup di Jerman
Hubungan keduanya makin dekat
dan cinta membawa mereka menikah pada 12 Mei 1962 di Bandung. Sebulan kemudian,
mereka terbang ke Jerman. Tiga tahun pertama pernikahan, Rudy fokus sebagai
pencari nafkah dan membangun karier. Sedangkan Ainun mengurus rumah tangga.
Ainun pernah menulis surat kepada A. Makmur Makka untuk keperluan publikasi buku
Kesan dan Kenangan Setengah Abad Prof.Dr.Ing. B.J. Habibie (1986). Versi
lengkap surat ditampilkan pada Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di Mata
Orang-Orang Terdekat (2012). Di antara semua kejadian yang ia lalui puluhan
tahun bersama Habibie, Ainun memilih untuk menulis tahun-tahun pertama
pernikahan mereka.
Tiga setengah tahun pertama
berumah tangga adalah waktu yang sangat menantang bagi Ainun. Ainun sempat
didera kesepian di negeri orang dan itu sungguh bukan hal mudah. Ia tidak punya
teman bicara. Habibie kerja sampai larut malam agar bisa lancar mendapat
promosi pekerjaan. “Penghasilan kami pas-pasan. Suami harus mencuri waktu
bekerja sebagai ahli konstruksi pada pabrik kereta api. Ia pulang jam 11 malam
dan lanjut menulis disertasi. Dua sampai tiga kali seminggu ia berjalan kaki
sejauh 15 km ke tempat kerja. Sepatunya berlubang dan hanya ditambal ketika
musim dingin. Ketika hamil anak pertama, saya belajar menjahit untuk menghemat
biaya. Lama-lama jahitan saya tidak jelek. Saya bisa memperbaiki yang rusak,
membuat pakaian bayi, dan menjahit pakaian dalam persiapan musim dingin.
Prioritas kami sebelum Ilham lahir ialah membeli mesin jahit. Tidak ada uang
kecuali untuk membeli mesin jahit,” tulis Ainun. Ia berkata harus melakukan
segala sesuatu sendiri agar sang suami bisa memusatkan perhatian pada tugasnya.
“Hidup berat, tetapi manis.” Kebahagiaan Ainun tiba di malam hari saat ia dan
Habibie bisa menjalani aktivitas masing-masing di ruangan yang sama.
Tulisan itu ialah satu dari
sedikit perkataan Ainun tentang kehidupan personal Ainun yang dimuat di media
massa. Makmur berkata, Ainun bukan orang yang nyaman diwawancara tentang topik
selain aktivitas organisasi yang didirikannya, semisal Orbit, lembaga penyedia
beasiswa bagi murid-murid kurang mampu. Akhirnya setelah anak-anak mereka cukup
besar untuk bisa dititipkan kepada pengasuh, Ainun baru bisa ikut membantu
ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit di
Hamburg. Dengan pekerjaan itu, Ainun dapat mandiri dengan gaji yang hampir
menyamai Rudy. “Saya bisa membantu suami membeli tanah dan rumah di Kakerbeck,”
ungkap Ainun dalam memoarnya yang bertajuk “Tahun-tahun Pertama”, yang
terhimpun dalam Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan di Mata Orang-orang
Terdekat (hlm. 130). Tapi dua tahun setelahnya Ainun justru memutuskan untuk
berhenti bekerja. Keputusan itu ia ambil saat Thareq, anak bungsunya, sakit
keras. Kala itu ada gejolak dalam dirinya, ia merasa bisa mengurus anak orang
lain tapi lalai dalam mengurus anaknya sendiri.
Saat Badai Menghantam Habibie
Kekuatan cinta antara Habibie
dan Ainun memang tak perlu diragukan, keduanya bisa saling mendukung dan
melalui masa sulit bersama. Bahkan saat Ainun di vonis dokter menderita kanker
ovarium kala itu. Saat itu Hasri Ainun Besari menjalani pemeriksaan MRI dokter
menyatakan Ainun menderita kanker ovarium stadium lanjut. Mendengar hal itu
Habibie lantas menelepon Duta Besar Jerman di Jakarta. Ia meminta agar
dibuatkan visa untuk berkunjung ke Jerman dalam beberapa jam ke depan. “Harus
jadi hari ini juga. Saya harus berangkat ke Jerman,” katanya mengulang
perkataan kepada sang duta besar. Ia mengucap lagi kalimat tersebut saat
menjadi bintang tamu acara bincang santai Rosi di Kompas TV. Sang duta besar
kebingungan. Habibie tetap memaksa. Ainun sakit keras dan Habibie baru saja
mengetahui hal itu. Usai MRI, Ainun yang telah sadar mencoba menenangkan dengan
berkata pada suaminya bahwa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
Namun Habibie menjawab dengan
perkataan “ovarium stadium 3-4,” mendengar itu Ainun hanya terdiam, ia sudah
tidak bisa lagi menyembunyikan kondisi kesehatannya. “Saya tidak mau mati di
luar negeri,” kata Ainun kepada Habibie. Ainun bersedia pergi bila sang suami
berjanji akan membawa dirinya kembali ke Jakarta pada Desember 2010 agar bisa
menghadiri rapat Bank Mata, organisasi yang bergerak di bidang donor mata bagi
para tunanetra. Ainun aktif di sana. Ia yang membuat lembaga ciptaan Tien
Soeharto itu kembali berfungsi. Habibie siap memegang komitmen tersebut. Namun
janji itu urung ditepatinya, Ainun wafat pada 24 Maret 2010 di Jerman setelah
menjalani sembilan kali operasi. Selama sakit tak sedikitpun Habibie
meninggalkan Ainun, begitu pula saat Ainun meninggal. Ini menjadi hantaman
badai besar bagi kehidupan Habibie. Setiap hari selama 100 hari pertama,
Habibie ziarah ke makam sang isteri.
Setiap malam ia tidur
ditemani anak dan cucu. Bahkan setelahnya selama seminggu sekali ia tetap
berkunjung ke makam isterinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengganti bunga
yang mulai layu di atas makam Ainun. Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie
menderita penyakit psikosomatis. Dokter berkata, bila Habibie tidak melakukan
apapun untuk tubuhnya, ia bisa menyusul Ainun dalam waktu tiga bulan. “Bapak
kehilangan orang yang bisa melindunginya. Ibu punya insting tajam. Dia bisa
membisikkan Bapak, menjauhkannya dari hal-hal jahat yang muncul di sekitarnya.
Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain. Pernikahan ialah kerja
keras dan tidak semua berakhir baik. Ibu dan Bapak ialah dua orang cerdas dan
dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario
film Habibie & Ainun. Habibie memilih bangkit dan berupaya menyembuhkan
diri dengan menulis kisahnya bersama Ainun. Buku berjudul Habibie & Ainun
terbit pada November 2010. Setelah melalui perjuangan panjang bertahan tanpa
ada sang isteri yang mendampinginya, Rabu 11 September 2019 pukul 18.05 Habibie
menghembuskan nafas terakhir, menyusul Ainun di keabadian.
Langganan:
Postingan (Atom)



